Sabtu, 28 Desember 2013

BUKU Pencak Silat









PERKEMBANGAN PENCAK SILAT
Dr. Johansyah Lubis, M.Pd
                 
Pencak Silat Merupakan salah satu budaya asli bangsa Indonesia, dimana sangat diyakini oleh para pendekarnya dan pakar pencak silat bahwa masyarakat Melayu saat itu menciptakan dan mempergunakan ilmu bela diri ini sejak di masa prasejarah. Karena pada masa itu manusia harus menghadapi alam yang keras dengan tujuan mempertahankan kelansungan hidupnya (survive) dengan melawan binatang ganas dan berburu yang pada akhirnya manusia mengembangkan gerak-gerak bela diri.

A.   Perkembangan Di Tanah Melayu
             Di kawasan Melayu dapat ditemukan beladiri pencak silat dengan mempergunakan istilah bermacam-macam seperti ‘bersilat’, ‘gayong’, ‘cekak’ disemenanjung Malaysia dan Singapore, dan di Thailand di Propinsi Pattani, Satun dan Narathiwat digunakan istilah ‘bersilat’ juga. Sedangkan di Filipina Selatan digunakan istilah ‘pasilat’. Hal ini membuktikan bahwa Beladiri ini bersumber dari Indonesia, karena bila diurutkan perkembangan mereka mengakui pernah berguru dengan ‘orang’ Indonesia. Istilah ‘Melayu’ menurut Tuan Ismail adalah suatu kaum yang khusus bertutur dalam bahasa Melayu dan mempunyai sifat asas keturunan Melayu yang sama. Lebih lanjut dikatakan dari segi linguistik, kawasan orang Melayu adalah kawasan lautan teduh yaitu Easter Island di sebelah timur ke pulau Madagaskar di sebelah barat. Etnis Melayu biasanya disebut penduduk yang tersebar di kepulauan yang meliputi Malaysia, Indonesia, Singapore, Brunei Darussalam, Filipina dan beberapa kepulauan kecil yang berdekatan dengan negara-negara tersebut, walaupun sebetulnya penduduk Melayu adalah hanya suatu etnis di antara ratusan etnis yang mendiami kawasan itu.
Di Indonesia sendiri istilah pencak silat baru mulai di pakai setelah berdirinya organisasi pencak silat (IPSI), sebelumnya di daerah sumatera lebih di kenal dengan istilah Silat, sedangkan di tanah jawa kebanyakkan dikenal dengan istilah Pencak saja.
          Saat Periode kepemimpinan Bpk. Eddie M. Nalapraya Indonesia sebagai pendiri memiliki hasrat untuk mengembangkan Pencak Silat ke mancanegara, dengan mengambil prakarsa pembentukkan dan mendirikan Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (PERSILAT) pada 11 Maret 1980 bersama Singapore, Malaysia dan Brunei Darussalam. Dimana keempat negara tersebut akhirnya dinyatakan sebagai negara-negara pendiri organisasi Internasional Pencak Silat tersebut.
          Upaya pengembangan Pencak Silat yang dipelopori oleh Indonesia dan anggota PERSILAT lainnya sampai saat ini berhasil menambah anggota PERSILAT, penambahan ini memberikan dampak pada usaha IPSI dan anggota PERSILAT lainnya untuk memasuki Pencak Silat ke multi event di tingkat Asia, yaitu Asian Games, dengan membentuk organisasi Pencak Silat Asia Pasific bulan Oktober 1999.
Dengan adanya beberapa multi event di tingkat Asia seperti Asian Indoor games, Asian beach Games, maka Pencak silat mulai di menjadi salah satu cabang olahraga yang berkembang menjadi cabang olahraga beladiri modern.

B.   Perkembangan Pencak Silat Di Tanah Air
          Organisasi Pencak Silat di Indonesia yang disebut dengan Ikatan Pencak Silat Indonesia atau disingkat IPSI didirikan pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta, yang diprakarsai oleh Mr. Wongsonegoro, yang saat itu menjabat sebagai ketua Pusat Kebudayaan Kedu.
Rounded Rectangle: Gbr 1. Mr. Wongsonegoro         Usaha para pendekar dan semua pihak dengan rasa cinta dan kesadaran akan tuntutan zaman, terutama generasi mudanya untuk menjadikan pencak silat benar-benar dihayati dan berkembang dimasyarakat, maka mulai PON I sampai dengan PON VII Pencak Silat dipertandingkan secara eksebisi dan pada PON VIII tahun 1975 di Jakarta, pada kepemimpinan bpk Cokropranolo Pencak Silat resmi dipertandingkan.
Rounded Rectangle: Gbr 2. Cokropranolo         Sejak saat itu pertandingan Pencak Silat Khususnya katagori Tanding mulai sering dipertandingkan dan menjadi primadona IPSI, seperti dalam Pekan Olahraga Bank (PORBANK), Pekan Olahraga Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (PORABRI), Pekan olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS), Pekan Olahraga Pelajar (POPNAS), Pekan Olahraga Nasional (PON), Pekan Olahraga negara-negara Asia Tenggaran (SEA Games) bahkan Kejuaraan Dunia (Single event).
         Di tingkat Asian Games, Pencak Silat tahun 2002 masuk dalam agenda Sport Cultural Event di Busan Korea Selatan, sasaran selanjutnya PB IPSI berupaya memasukkan Pencak Silat resmi menjadi cabang yang dipertandingkan di Asian Games Qatar 2006, dimana dengan pengiriman pelatih dan atlet dari negara-negara Yamen, untuk berlatih di Jakarta agar menyiapkan diri, serta mencari dukungan-dukungan dari negara-negara Asia timur dan seperti Korea, Jepang.
         Sebagai catatan suatu cabang bisa dipertandingkan di Asian Games memiliki persyaratan bahwa cabang tersebut di ikuti minimal oleh 16 negara yang berada dalam minimal 3 regional Asia. Hal yang paling mendasar adalah bahwa keberadaan cabang pencak silat di suatu Negara asia banyak yang belum terdaftar sebagai anggota NOC di Negara tersebut, tentunya setiap Negara memiliki aturan tersendiri, seperti di Indonesia suatu cabang yang ingin terdaftar di KONI harus memiliki pengurus di tingkat daerah minimal sebanyak 10 propinsi yang diakui oleh KONI Provinsinya. Inilah yang menjadi tantangan Persilat dan anggotanya harus memperjuangkan Pencak silat masuk di NOC masing-masing Negara. Multi event setingkat dengan Asian games yaitu ABG (Asian Beach Games pertama di Bali tahun 2008, Pencak silat dipertandingkan dengan beberapa kategori tanding dan kategori jurus tunggal, Sedangkan di tahun 2009 Pencak silat masuk dalam kalender pertandingan Asian Indoor Games di Vietnam.
        Perkembangan Pencak silat menjadi salah satu olahraga yang mulai dipertandingan di berbagai multi event regional dan internasional memberi konsekuensi bahwa olahraga tersebut sudah diterima menjadi olahraga dunia, sehingga semua negara yang mengembangkan pencak silat akan berusaha seoptimalkan mungkin untuk mendapatkan/meraih medali, dengan berbagai cara yaitu memanggil pelatih pencak silat dan memanfaatkan IPTEK Olahraga sebagai pendukung.
C.   Terbentuknya Istilah 10 Perguruan Historis
      Pada tahun 1950, Pemerintah RI berpindah tempat dari Yogyakarta ke Jakarta. Perpindahan ini berdapak pada berpindahnya seluruh administrasi pemerintahan dan pegawainya. Demikian pula dengan Pengurus IPSI mengalami proses perpindahan tersebut.
      Pada Tahun 1950 tsb, NKRI dirongrong oleh separatis Daril Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang bermaksud mendirikan Negara Islam Indonesia. Untuk melawan DI/TII tsb, Panglima Teritorium III waktu itu Kolonel R.A. Kosasih membentuk PPSI (Persatuan Pencak Silat Indonesia) yang bertujuan menggalang kekuatan jajaran Pencak Silat untuk menghadapi DI/TII yang berkembang di wilayah Lampung, Jawa barat (termasuk Jakarta), Jawa Tengah bagian Barta termasuk DI Yogyakarta.
      Akan tetapi dampaknya adalah terjadi dualisme pembinaan, Kebetulan IPSI lebih banyak melaksanakan pembinaan pada aspek olahraga, sedangkan PPSI lebih banyak membina pada aspek seni pertunjukkan (ibing Pencak Silat). Kesatuan Pencak Silat bertambah terancam dengan berdirinya organisasi diluar IPSI misalnya Bapensi, Perpi, Silat Betawi dll.
       IPSI dan PPSI berupaya agar bisa masuk PON, akan tetapi pemerintah lebih mengenal IPSI sebagai Induk Organisasi Olahraga karena pemerintah turut mendirikan IPSI di tahun 1948. KOI dan PORI (1950), KAGOR (1960), DORI (Dewan Olahraga Indonesia) mengetahui benar pembentukkan IPSI pada tahun 1948, sehingga Presiden Soekarno (Ex Officio DORI) menggangap IPSI sebagai satu-satunya Induk Organisasi Cabang Olahraga Pencak Silat.
        Apalagi pada tahun 1969 tanggal 31 Desember IPSI ikut mendirikan KONI, maka status keanggotaan IPSI di KONI sebagai pendiri menjadi lebih kokoh lagi.
Pada tahun 1960, PB IPSI membentuk Laboratorium Pencak Silat yang bertujuan disusunnya peraturan pertandingan Pencak Silat yang baku dan memenuhi kriteria suatu pertandingan olahraga, yang dapat dipertandingkan ditingkat nasional. Para anggotanya laborat terdiri dari Arnowo Adji (Perisai Diri), Januarno dan Imam Suyitno (SHT), Hadi Mulyo dibantu dr. Rahmadi dan dr, Djoko Waspodo. (Sejak PON ke IV s/d VII Pencak Silat dipertandingkan dalam bentuk eksbisi dalam permainan tunggal dan permainan Ganda)
Menjelang Kongres IPSI ke IV tahun 1973 Mr. Wongsonegoro diganti oleh Brigjen Tjoropronolo (Gubernur DKI Jakarta) sebagai Ketua PB IPSI. Beliau di bantu oleh Perguruan Pencak Silat dalam melakukan pendekatan kepada PPSI, yang akhirnya bergabung ke dalam IPSI, perguruan-perguruan tersebut antara lain;
1.    Tapak Suci                        : Tanamas,  Haryadi M.
2.    KPS Nusantara                 : Hadi Mulyo, Sumarnohadi, Rahmadi, Djoko W
3.    Perisai Diri                         : Arnowo Adji
4.    Phashadja Mataram         : Sutardjonegoro
5.    Perpi Harimurti                  : Sukowinadi
6.    Perisai Putih                      : Maramis, Runtu, Sutedjo dan Himantoro
7.    Putra Betawi                     : H. Saali
8.    Setia Hati                          : Harsoyo dan H.M. Zain
9.    Setia Hati Teratai              : Januarno, Imam Suyitno Pamudji
10.  PPSI                                  : H. Suhari Sapari.
Kesepuluh perguruan tesebut oleh bp Tjokropronolo dianggap telah berhasil mempersatukan kembali seluruh jajaran Pencak Silat ke dalam organisasi IPSI. Pada waktu kepemimpinan bapak Eddie M. Nalapraya, ke sepuluh perguruan tersebut diberi istilah 10 perguruan historis, hingga saat ini ke sepuluh perguruan tersebut di dalam Musyawarah Nasional IPSI menjadi peserta dan memiliki hak suara di dalamnya.
Rounded Rectangle: Gbr 3. Edie M. NalaprayaPada Munas Tahun 2003, tongkat estafet kepemimpinan Bpk. Edie M. Nalapraya di ganti oleh Bpk. Prabowo S. periode 2003-2007, yang tetap memperjuangkan Pencak Silat  ke jenjang lebih tinggi, sedangkan Bpk. Edie M. Nalapraya masih tetap sebagai presiden PERSILAT yang tetap gencar memperjuangkan Pencak Silat agar masuk ke Asian Games Qatar. Pada tahun 2009 pada saat kongres PERSILAT di Jakarta, tongkat estafet Presiden PERSILAT selanjutnya di serahkan ke bpk Prabowo yang juga Ketua UMUM PB IPSI.
Kepemimpinan IPSI periode 2003-2007 dikenal dengan dwitunggalnya, karena antara ketua umum bpk. Prabowo S dan ketua harian PB IPSI yang di percayakan kepada Bpk. Rahmat Gobel, memiliki harapan besar masuknya Pencak Silat ke multi event lainnya. Tahun 2007 s/d 2010 bp. Prabowo melanjutkan kepemimpinannya di PB IPSI. Dengan ketua harian bpk Muchdi P yang memiliki visi mengembalikan prestasi pencak silat ke tanah air. Beberapa keputusan Munas yang penting adalah diterimanya perguruan silat Betako Merpati Putih (MP), Satria Muda Indonesia (SMI), Persinas ASAD, PSTD Indonesia dan Tetada kalima Sada menjadi anggota PB IPSI. Sehingga anggota PB IPSI terdiri dari Pengurus Daerah IPSI sebanyak 33 Propinsi dan 10 Perguruan historis dan 5 Perguruan silat.  Pada Munas PB Rounded Rectangle: Gbr 4. Prabowo SubiantoIPSI tahun 2012 menetapkan kembali bpk Prabowo menjadi ketua umum dengan pertimbangan hasil prestasi Indonesia pada multi event sangat baik dengan merebut kembali Indonesia sebagai Juara umum pada Kejuaraan Dunia dan SEA Games 2012 di Jakarta, dan perguruan silat Pagar Nusa sudah terdaftar dan disyahkan sebagai anggota ditingkat pusat.
  
D.   Perkembangan Nomor-nomor yang dipertandingkan
Olahraga Pencak Silat mulai dipertandingkan secara resmi pada  PON ke VII di Jakarta dengan menampilkan nomor tanding, istilah katagori tanding dulu dikenal dengan istilah pencak silat olahraga, kemudian berkembang menjadi wiralaga, sekarang familiar istilah katagori tanding. Nomor pertandingan mengalami perubahan yang dulu kelas berdasarkan berat badan mulai dari kelas A s/d G dan bebas putra, kelas A : 40-45 kg. Sedangkan untuk putri mulai kelas A s/d E. Menjadi bertambah sampai dengan kelas A s/d I putra dan bebas Putra mulai +65Kg. Tahun 1999. Kelas bebas pada pertandingan resmi tidak ada, kelas A s/d J putra tetapi kelas A mulai 45-50 Kg dan seterusnya. Untuk Putri di tambah kelas A s/d F putri, perubahan ini berkaitan dengan desakan dari negara eropa yang sulit mencari atlet dengan berat badan dibawah 50kg.
Sedangkan untuk kategori Seni, istilah seni dulu dikenal dengan istilah pencak silat seni kemudian menjadi wiragana (seni silat tunggal) putra dan putri, wirasanggha (seni silat berpasangan) putra dan putri serta wiraloka (seni silat beregu), akan tetapi sekarang lebih dikenal dengan istilah Jurus/TGR yang kependekkan dari jurus tunggal, Jurus Ganda dan Jurus Regu. Nomor Jurus mulai dipertandingkan secara resmi pada PON XIV di Jakarta, dengan nomor jurus tunggal bebas putra dan putri, ganda putra dan putri dan Jurus Regu wajib.
Beberapa tulisan menjelaskan bahwa Pencak silat  belum resmi diterima dari PON ke I pada tahun 1948 sampai PON ke VII pada tahun 1969, (masih eksebisi) karena belum adanya peraturan yang dapat menjamin keselamatan pesilat, sekaligus mengatur dengan jelas sistem permainan beserta penilaiannya, Awal tahun 1970-an pencak silat mulai mendapat perhatian yang besar dari masyarakat, walaupun pelaksanaannya masih jauh dari sempurna. Khususnya pertandingan seleksi PON ke VIII di daerah berlangsung dengan kekurangan sarana dan prasarana. PB IPSI sebagai motor organisasi PERSILAT terus memberikan masukan dalam perkembangan peraturan sehingga peraturan pertandingan semakin menarik dan berkembang dengan memperhatikan dan mengurangi penilai yang subyektif, serta memperhatikan keselamatan atlet, dengan memperjuangkan penggunakan pelindung pada tungkai dan lengan dalam pertandingan kategori tanding.
Pada tahun 2007 hasil munas ke XI, dalam peraturan pertandingan sudah masuknya pertandingan usia praremaja yaitu kategori usia 9th s/d 13 tahun. Munculnya usia praremaja karena pertandingan pencak silat sudah mulai dipertandingan di tingkat SD mulai dari propinsi sampai tingkat nasional yang dilakukan oleh Depertemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral TK dan SD sebagai olahraga pendidikan dan merupakan program pemasalan. Disusul dengan pertandingan tingkat SMP dan SMA, Kejuaraan tersebut di tahun 2008 di beri nama Olimpiade Olahraga Sekolah Nasional (O2SN).

E.    Perkembangan Pencak silat di Australia
Pencak Silat sudah cukup lama hadir di Australia. Salah satu pendekar silat dari Indonesia menceritakan perkembangan pencak silat di benua Australia, Oki musakti menceritakan pada acara diaspora tahun 2013 di Jakarta, bahwa tidak ada sejarah resmi yang menyatakan kapan silat mulai muncul di benua ini. Tetapi mengingat para ahli sejarah telah mengatakan bahwa pelaut Makassar, Bugis dan suku-suku lain Indonesia telah secara rutin berlayar ke benua kangguru dan bahkan telah tinggal serta berasimilasi sejak abad 17 (bahkan mungkin sebelum itu) maka sangatlah mungkin apabila para pelaut dan pemukim tersebut membawa juga budaya termasuk beladiri silat kepada kalangan penduduk asli Australia.
Dimasa modern ini, beberapa perguruan telah hadir di Australia antara lain Perisai Diri, Sera, Merpati Putih, Asideci, Helang Putih, Langkah Baru dan banyak lagi, termasuk perguruan yang melakukan latihan secara personal tanpa memakai papan nama. Perguruan-perguruan silat ini ada yang dipimpin oleh orang Indonesia yang kebetulan tinggal di Australia atau orang-orang local yang belajar dari guru-guru di Indonesia, Malaysia dan tempat-tempat lain (semisal Belanda atau Amerika Serikat). Ada juga perguruan yang menggabungkan pelajaran silat dengan kuntao, jet kune do atau mixed martial arts (MMA).
Diantara perguruan yang ada di Australia, salah satu yang terbesar dan tertua adalah Perisai Diri. Perisai Diri di Australia bermula dari pertengahan dekade 1970 an ketika seorang pelatih Silat Perisai Diri dari Bandung, Dadang Muharram memutuskan untuk pindah ke kota Brisbane di negara bagian Queensland. Mulanya Don, panggilan akrab Dadang bekerja di pabrik perakitan mobil sambil mengajarkan silat PD pada beberapa muridnya tetapi beberapa tahun kemudian dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan melatih silat secara penuh waktu.
Dalam waktu tidak terlalu lama, Perisai Diri dibawah asuhan Don berkembang pesat, bukan hanya di Brisbane namun juga ke kota-kota besar lain di Australia. Pada setiap saat ada ratusan menjadi anggota aktif Perisai Diri, hingga apabila dijumlah mulai dari saat pembentukannya, telah ada ribuan orang yang sedang atau pernah menjadi murid Silat Perisai Diri di Australia.
Saat ini Perisai Diri berada dibawah bimbingan murid-murid Don baik dari generasi pertama, kedua bahkan ketiga. Pusat kegiatan dan mayoritas murid-muridnya tetap berada di Brisbane dan kota-kota sekitarnya seperti God Coast dan Sunshine Coast. Korps pelatih Perisai Diri saat ini dipimpin oleh seorang Australia yang telah mencapai tingkat Pendekar Muda yaitu Russel Dennis beserta pelatih-pelatih senior seperti Wesley Clark, Blake Brierty, Peter Blake, Michael Dare dan James Ellaray yang memimpin tempat latihan masing-masing dan semuanya telah mendalami Silat ini selama minimal 20 tahun. Selain itu ada terdapat juga pesilat-pesilat dari Indonesia yang ikut membantu melatih dan mengembangkan Perisai Diri disini.
Murid-murid Perisai Diri datang dari berbagai kalangan, dari mulai pekerja, wiraswasta, mahasiswa sampai anak-anak dan pelajar. Selain pada aspekolahraga dan beladiri, banyak diantara mereka yang justru tertarik pada aspek budaya dan kerukunan yang diterapkan di tempat latihan.

F.    Perkembangan pencak silat di Afrika Selatan
Pencak silat yang sekarang ada di Afrika Selatan, tentu tidak serta merta ada begitu saja. Di dalamnya sudah ada proses evolusi, kontribusi dari para pesilat, pendekar, para organisatoris, Pemerintah – masyarakat pencinta Pencak silat sehingga akhirnya Pencak Silat bisa ada di Afrika Selatan. Perguruan pencak silat Al Azhar bukanlah perguruan pencak silat pertama yang memiliki murid atau berkembang di Afrika selatan, sebelum itu sudah ada lebih dahulu beberapa perguruan lain, seperti aliran Betawi yang di pimpin Haji Muhammad Riko seorang pengusaha Ekspedisi, dimana ia berdarah campuran Afrika Selatan dan Indonesia, dengan gaya dan kemampuannya ia mencoba mengenalkan Pencak Silat aliran Betawi di daerah Laudium, Pretoria Afrika Selatan. Penggemar-penggemar bela diri, yang tadinya tidak mengenal akhirnya mengenal kurang lebih bagaimana bentuk pencak silat.
Perguruan Seni Silat Melaka yang berafiliasi kepada Pukulan Melaka Malaysia juga lebih dahulu melakukan penetrasi Pencak silat di Afrika Selatan dan boleh dikatakan cukup lama sejak tahun 1986, hanya saja, karena ketidak hadiran pelatih yang permanen tinggal di sana, perkembangannya mengalami gerak pasang naik dan surut. Ketika pencak silat Indonesia, (mungkin) pertama kali di promosikan di Capetown, pada tahun 2009, orang yang pertama berdiri di depan kuburan Makam Syaikh Yusuf, lengkap dengan memakai sarung, kopiah, dialah Moegamat Gielmie Hartley. Suasana begitu mengharukan, mengingat terasa sekali kami harus datang ke kampung-kampung, ribuan kilometer menggunakan kendaraan dan ada seseorang yang mau berdiri datang, tanpa di undang, datang berdiri menyambut.
            Ketika melakukan promosi pencak silat lagi di Capetown tahun 2010, suasana haru muncul, ketika Faheem Jackson menerima, Menjemput dan mengantarkan kami dengan kendarannya kemana-mana. Kami makan, tidur dan pergi berminggu-minggu dengan beliau. Faheem mengungkapkan keberadaaan pencak silat di Capetown seperti “Connecting the DOT”. Kalimat ini merupakan ekspresi perjuangan ras melayu atau keturunan orang-orang Indonesia yang berada di Afrika Selatan, bagaimana mereka harus bergulat menentukan jati diri mereka di antara persaingan ras baik kulit putih, hitam, orang India, pakistan, mereka selalu mencoba mencari akar dan mencari tahu siapa mereka sebenarnya dan mereka lebih berupaya menggali ke dalam, seperti apa jati diri mereka sebenarnya. Pencak Silat menyambungkan kali, titik –titik yang seperti hilang itu.
            Berdasarkan penulusuran di lapangan, Pencak Silat dari INDONESIA di perkirakan masuk dan merupakan BELA DIRI YANG PERTAMA masuk ke AFRIKA SELATAN, selain bela diri lokal permainan tongkat ZULU Stick Fighting. Pencak Silat masuk seiring dengan datangnya tahanan-tahanan politik para pejuang Indonesia dengan para pengikutnya dan para abdi dalamnya. Secara Nalar, nama-nama besar seperti Syaikh Yusuf, Tuan Guru dan atau Syaikh Madura, dan banyak nama-nama lain, tentu bukan orang yang awam dengan Bela Diri, bahkan dapat dikatakan memiliki aroma mistik pula dalam hal-hal tertentu sehingga dikatakan memiliki Kramat.
Salah satu bukti yang bisa dilihat nalar ini adalah adanya Budaya Ratib, peragaan seperti debus yang masih ada hingga detik ini di Bosmont, Johannesburg. Dari seluruh keluarga keturunan di Wilayah Western Cape, hanya tinggal satu keluarga tersisa yang bisa memainkan Ratib. Untuk dari Eastern Cape sendiri, kami kurang menggalinya kembali. Ratib merupakan salah satu bukti adanya titik hubungan dari keberadaan antara orang-orang yang berada di Afrika Selatan dengan aorang-orang yang berada di indonesia, apabila di tinjau dari kesenian bela diri.
Apabila kita tinggal di Afrika Selatan, kita bisa merasakan betul perjuangan mencari jati diri itu, bagaimana orang-orang keturunan Indonesia itu berusaha benar mencari jati diri mereka dan berupaya menyusun kembali jati diri mereka dengan identitas nenek moyangnya. Mereka bisa saja berwarganegara berbeda, namun di dalamnya, jiwa dan genetik mereka, mereka adalah INDONESIA

FAIRPLAY


Etika dan Moral dalam Pendidikan Jasmani menuju Olahraga Prestasi

Johansyah Lubis[1]
Abstrak: Salah satu masalah penting dalam kehidupan di tanah air ini adalah etika dan moral, pendidikan jasmani dan olahraga sebagai salah satu sarana pendidikan anak memberikan suatu pengayaan dalam etika dan moral di masyarakat. Mengajarkan etika dan nilai moral sebaiknya lebih bersifat contoh.Tindakan lebih baik baik dari kata-kata. Nilai Moral itu beraneka macam, termasuk loyalitas, kebajikan, kehormatan, kebenaran, respek, keramahan, integritas, keadilan, kooperasi.

            Kata-kata kunci: Etika, Pendidikan Jasmani, Olahraga

Pendidikan Jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, sehingga pendidikan jasmani memiliki arti yang cukup representatif dalam mengembangkan manusia dalam persiapannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
Pendidikan jasmani di Indonesia memiliki tujuan kepada keselarasan antara tubuhnya badan dan perkembangan jiwa, dan merupakan suatu usaha untuk membuat bangsa indonesia yang sehat lahir dan batin, diberikan kepada segala jenis sekolah. (UU no 4 th 1950, ttg dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah bab IV pasal 9)
Pendidikan jasmani mempunyai tujuan pendidikan sebagai (1) perkembangan organ-organ tubuh untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani, 2) perkembangan neuro muskuler, 3) perkembangan mental emosional, 4) perkembangan sosial dan 5) perkembangan intelektual.
Tujuan akhir olahraga dan pendidikan jasmani terletak dalam peranannya sebagai wadah unik penyempurnaan watak, dan sebagai wahana untuk memiliki dan membentuk kepribadian yang kuat, watak yang baik dan sifat yang mulia; hanya orang-orang yang memiliki kebajikan moral seperti inilah yang akan menjadi warga masyarakat yang berguna (Baron Piere de Coubertin)
Uraian di atas memperjelas bahwa pendidikan jasmani dan olahraga merupakan ‘alat’ pendidikan, sekaligus pembudayaan. Proses ini merupakan sebuah syarat yang memungkinkan manusia mampu terus mempertahankan kelangsungan hidupnya sebagai manusia.
Pendidikan adalah segenap upaya yang mempengaruhi pembinaan dan pembentukkan kepribadian, termasuk perubahan perilaku, karena itu pendidikan jasmani dan olahraga selalu melibatkan dimensi sosial, disamping kriteria yang bersifat fisikal yang menekankan ketrampilan, ketangkasan dan unjuk “kebolehan’. Dimensi sosial ini melibatkan hubungan antar orang, antar peserta didik sebagai sebagai fasilitator atau pengarah.
Kondisi saat ini ketika masyarakat Indonesia menghadapi permasalahan perekonomian yang berkepanjangan, tidak terlepas dari etika dan moral bangsa yang sudah ‘bobrok’, budaya bangsa yang luhur mulai telah terkikis sedikit demi sedikit. Anak banyak yang tidak menghargai gurunya bahkan orang tuanya.
Fenomena dalam pendidikan jasmani saat ini, banyak anak yang enggan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani karena terkesan membosankan dan menjemukan.
Masalah moral di Amerika menjadi salah satu isu pendidikan yang diangkat dalam membentuk manusia Amerika, mengingat orang Amerika pernah terkejut pada awal 1985 ketika mereka mengetahui bahwa pemenang medali cabang balap sepeda pada Olimpiade yang berasal dari USA mengakui telah mendoping darah sebelum kompetisi. Ditambah lagi 86 atlet Amerika dari berbagai cabang gagal melewati tes obat-obatan yang diadakan oleh Komite Olahraga Amerika Serikat, sembilan bulan sebelum pertandingan pada tahun 1984. Belum lagi kasus kematian pelari Belanda di Universitas Amerika membawa pada penemuan secara tidak sengaja tentang penggunaan secara luas resep obat yang didapatkan secara ilegal oleh atlet mahasiswa, yang disuplai oleh pelatih kampus.
Pendidikan jasmani dan olahraga adalah laboratorium bagi pengalaman manusia, karena dalam pendidikan jasmani menyediakan kesempatan untuk memperlihatkan mengembangan karakter. Pengajaran etika dalam pendidikan jasmani biasanya dengan contoh atau perilaku. Pengajar tidak baik berkata kepada muridnya untuk memperlakukan orang lain secara adil kalau dia tidak memperlakukan muridnya secara adil.
Selain dari pada itu pendidikan jasmani dan olahraga begitu kaya akan pengalaman emosional. Aneka macam emosi terlibat di dalamnya. Kegiatan pendidikan jasmani dan olahraga yang berakar pada permainan, ketrampilan dan ketangkasan memerlukan pengerahan energi untuk menghasilkan yang terbaik.
Pantas rasanya jika kita setuju untuk mengemukakan bahwa pendidikan jasmani dan olahraga merupakan dasar atau alat pendidikan dalam membentuk manusia seutuhnya, dalam pengembangan kemampuan cognitif, afektif dan psikomotor yang behavior dalam membentuk kemampuan manusia yang berwatak dan bermoral.
Dalam tulisan ini akan lebih dibahas tentang etika dan permasalahan dalam pendidikan jasmani dan olahraga. Dengan mencoba mengkomperkan dan menanalisis serta memyusun rekomendasi yang memungkinkan dalam pengembangan pendidikan jasmani dan olahraga.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, agar paper ini lebih mengarah maka pembahasan akan lebih di fokuskan pada :
Bagaimana etika dalam pendidikan jasmani dan olahraga?
Bagaimana pendidikan etika membentuk manusia secara utuh?
Masalah tersebut akan dicoba dibahas dalam tulisan ini dari segi teori dan analisis penjasnya.

Hakikat Etika
Istilah etika dan moral secara etimologis, kata ethics berasal dari kata Yunani, ethike yang berarti ilmu tentang moral atau karakter. Studi tentang etika itu secara khas sehubungan dengan prinsip kewajiban manusia atau studi tentang semua kualitas mental dan moral yang membedakan seseorang atau suku bangsa. Moral berasal dari kata Latin, mos dan dimaksudkan sebagai adat istiadat atau tata krama. (Rusli Lutan)
Etika tidak mempunyai pretensi untuk secara langsung dapat membuat manusia menjadi lebih baik. Etika adalah pemikiran sistematis tentang moralitas, dimana yang dihasilkannya secara langsung bukan kebaikan, melainkan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis. (Franz Magnis Suseno,1989). Lebih lanjut dikatakan bahwa etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Jadi etika dan ajaran-ajaran moral tidak berada di tingkat yang sama. Untuk memahami etika, maka kita harus memahami moral.
Selanjutnya Suseno mengatakan bahwa Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran, melainkan memeriksa kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, norma-norma dan pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika menuntut pertanggung jawabab dan mau menyingkapkankan ke rancuan. Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral begitu saja melainkan menuntut agar pendapat-pendapat moral yang dikemukakan di pertanggung jawabkan. Etika berusaha untuk menjernihkan permasalahan moral.
Dalam etika mengembangkan diri, Orang hanya dapat menjadi manusia utuh kalau semua nilai atas jasmani tidak asing baginya, yaitu nilai-nilai kebenaran dan pengetahuan, kesosialan, tanggung jawab moral, estetis dan religius. Suatu usaha sangat berharga untuk menyusun nilai-nilai dan menjelaskan makna bagi manusia dilakukan oleh Max Scheler dikemukan sebagai berikut : Mengembangkan diri, Melepaskan diri, menerima diri
Freeman menyebutkan bahwa etika terkait dengan moral dan tingkah laku, menjelaskan aturan yang tepat tentang sikap. Etika merupakan pelajaran dari tingkah laku ideal dan pengetahuan antara yang baik dan buruk. Etika juga menggambarkan tindakan yang benar atau salah dan apa yang harus orang lakukan atau tidak. Etika penting karena merupakan kesepakatan pada kebiasan manusia, bagaimana modelnya, bagaimana ia menunjukkan dirinya  sendiri, dengan segala sisi baik dan buruk.
Scott Kretchmar mengemukakan etika mendasari tentang cara melihat dan mempromosikan kehidupan yang baik, tentang mendapatkannya, merayakannya dan menjaganya. Etika terkait dengan nilai-nilai pemeliharaan seperti kebenaran, pengetahuan, kesempurnaan, persahabatan dan banyak nilai-nilai lainnya. Etika juga mengenai rasa belas kasih dan simpati, tentang memastikan kehidupan baik berbagi dengan lainnya, etika terkait dengan kepedulian terhadap yang lain, terutama yang tidak punya kedudukan atau kekuatan yang diperlukan untuk melindungi diri mereka sendiri atau jalan mereka.
Hakikat Moral
Istilah moral dikaitkan dengan motif, maksud dan tujuan berbuat. Moral berkaitan dengan niat. Sedangkan etika adalah studi tentang moral. Sedangkan menurut Freeman etika terkait dengan moral dan tingkah laku. Lebih lanjut Scott Kretchmar menyatakan bahwa etika juga mengenai tentang rasa belas kasih dan simpati-tentang memastikan kehidupan yang baik berbagi dengan lainnya.
Suseno mengatakan bahwa moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolok ukur untuk menentukan betul-salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas.
Selanjutnya dikatakan bahwa ada norma-norma khusus yang hanya berlaku dalam bidang atau situasi khusus. Seperti bola tidak boleh disentuh oleh pemain sepakbola, bila permainan berhenti maka aturan itu sudah tidak berlaku.
Norma diatas merupakan norma khusus, sedangkan norma umum ada tiga macam seperti : norma-norma sopan santun, norma-norma hukum dan norma-norma moral. Norma sopan santun menyangkut sikap lahiriah manusia. Namun sikap lahiriah sendiri tidak bersifat moral.
Norma hukum adalah norma yang dituntut dengan tegas oleh masyarakat karena perlu demi keselamatan dan kesejahteraan umum. Norma hukum adalah norma yang tidak dibiarkan dilanggar, orang yang melanggar hukum, pasti akan dikenai hukuman sebagai sangsi. Tetapi norma hukum tidak sama dengan norma moral. Bisa terjadi bahwa demi tuntutan suara hati, demi kesadaran moral, orang harus melanggar hukum. Kalaupun dihukum, hal itu tidak berarti bahwa orang itu buruk. Hukum tidak dipakai untuk mengukur baik-buruknya seseorang sebagai manusia, melainkan untuk menjamin tertib umum. Norma moral adalah tolok ukur yang dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang, maka dengan norma-norma moral kita betul-betul dinilai. Itulah sebab penilaian moral selalu berbobot.
Perkembangan moral adalah proses, dan melalui proses itu seseorang mengadopsi nilai-nilai dan perilaku yang diterima oleh masyarakat (Bandura, 1977). Pada dasarnya seseorang yang konsisten menginternalisasi norma dipandang sebagai seseorang yang bermoral. Para ahli menerapkan apa yang disebut pendekatan “kantong kebajikan” (Kohlberg, 1981), teori ini percaya bahwa seseorang mencontoh perilaku orang lain sebagai model atau tauladan yang ia nilai memiliki sifat-sifat tertentu atau yang menunjukkan perilaku berlandasan nilai yang diharapkan.
Untuk memahami moral Kohlberg (1981) dan Rest (1986) menyatakan bahwa pemahaman moral berpengaruh langsung terhadap motivasi dan perilaku namun memiliki hubungan yang tak begitu kuat. Hubungan erat pada empati, emosi, rasa bersalah, latar belakang sosial, pengalaman.
Suseno melihat terdapat tiga prinsip dasar dalam moral, yaitu prinsip sikap baik, prinsip keadilan dan prinsip hormat terhadap diri sendiri.
Prinsip sikap baik dimana prinsip ini mendahului dan mendasari semua prinsip moral lain, dimana sikap yang dituntut dari kita adalah jangan merugikan siapa saja. Prinsip bahwa kita harus mengusahakan akibat-akibat baik sebanyak mungkin dan mengusahakan untuk sedapat mungkin mencegah akibat buruk dari tindakan.
Prinsip keadilan dimana keadilan tidak sama dengan sikap baik, demi menyelamatan gol dari serangan lawan, pemain belakang menahan dengan tangan, hal itu tetap tidak boleh dengan alasan apapun, berbuat baik dengan melanggar hak pihak lain tidak dibenarkan.
Prinsip hormat terhadap diri sendiri mengatakan bahwa manusia wajib untuk selalu memperlakukan diri sebagai suatu yang bernilai pada dirinya sendiri. Prinsip ini berdasarkan faham bahwa manusia adalah person, pusat berpengertian dan berkehendak, yang memiliki kebebasan dan suara hati, mahluk berakal budi.

Bagaimana kita mengajarkan etika dan nilai moral
Dalam mengajarkan etika dan nilai moral sebaiknya lebih bersifat contoh, pepatah mengatakan bahwa tindakan lebih baik baik dari kata-kata. Lutan mengatakan Nilai Moral itu beraneka macam, termasuk loyalitas, kebajikan, kehormatan, kebenaran, respek, keramahan, integritas, keadilan, kooperasi, tugas dll. Lebih lanjut dikatakan ada 4 nilai moral yang menjadi inti dan bersifat universal yaitu :
1.    Keadilan.
Keadilan ada dalam beberapa bentuk ; distributif, prosedural, retributif dan kompensasi. Keadilan distributif berarti keadilan yang mencakup pembagian keuntungan dan beban secara relatif. Keadilan prosedural mencakup persepsi terhadap prosedur yang dinilai sportif atau fair dalam menentukan hasil. Keadilan retributif mencakup persepsi yang fair sehubungan dengan hukuman yang dijatuhkan bagi pelanggar hukum. Keadilan kompensasi mencakup persepsi mengenai kebaikan atau keuntungan yang diperoleh penderita atau yang diderita pada waktu sebelumnya.
Seorang wasit bila ragu memutuskan apakah pemain penyerang berada pada posisi off-side dalam sepakbola, ia minta pendapat penjaga garis. Semua pemain penyerang akan protes, meskipun akhirnya harus dapat menerima, jika misalnya wasit dalam kasus lainnya memberikan hukuman tendangan penalti akibat pemain bertahana menyentuh bola dengan tanganya, atau sengaja menangkap bola di daerah penalti. Tentu saja ia berusaha berbuat seadil mungkin. Bila ia kurang yakin, mungkin cukup dengan memberikan hukuman berupa tendangan bebas.
2.    Kejujuran.
Kejujuran dan kebajikan selalu terkait dengan kesan terpercaya, dan terpercaya selalu terkait dengan kesan tidak berdusta, menipu atau memperdaya. Hal ini terwujud dalam tindak dan perkataan.
Semua pihak percaya bahwa wasit dapat mempertaruhkan integritasnya dengan membuat keputusan yang fair. Ia terpercaya karena keputusannya mencerminkan kejujuran.
3. Tanggung Jawab.
Tanggung jawab merupakan nilai moral penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tanggung jawab ini adalah pertanggungan perbuatan sendiri. Seorang atlet harus bertanggung jawab kepada timnya, pelatihnya dan kepada permainan itu sendiri. Tanggung jawab ini merupakan nilai moral terpenting dalam olahraga.
4. Kedamaian
Kedamaian mengandung pengertian : a)tidak akan menganiaya, b)mencegah penganiayaan, c) menghilangkan penganiaan, dan d)berbuat baik. Bayangkan bila ada pelatih yang mengintrusksikan untuk mencederai lawan agar tidak mampu bermain?
Freeman dalam buku Physical Education and Sport in A cahanging Society menyarankan 5 area dasar dari etika yang harus diberikan yaitu : 1) Keadilan dan persamaan, 2) Respek terhadap diri sendiri. 3) Respek dan pertimbangan terhadap yang lain, 4) Menghormati peraturan dan kewenangan , 5) Rasa terhadap perspektif atau nilai relatif. (Freeman,2001;210)
1.    Keadilan dan Persamaan
Anak didik atau atlet adalah mengharapkan perlakuan yang adil dan sama. Anak didik ingin sebuah kesempatan untuk belajar yang sama. Seringkali anak didik yang di bawah rata-rata dalam olahraga diabaikan.
2.    Respek terhadap diri sendiri
Pelajar atau atlet membutuhkan respek terhadap diri sendiri dan imej positif tentang dirinya untuk menjadi sukses. Pelatih dan pengajar yang melatih semua anak didiknya dengan sama mengambil langkah tepat dalam setiap arahnya agar anak didiknya merasa dirinya penting dan layak dimata pengajarnya.
3.    Rasa hormat dan kepedulian terhadap orang lain.
Pelajar dan atlet membutuhkan rasa hormat kepada orang lain, apakah teman sekelasnya, lawan bertanding, guru ataupun pelatihnya. Mereka perlu belajar tentang bagaimana pentingnya memperlakukan orang lain dengan hormat.
4.    Menghormati peraturan dan kewenangan
Pelajar dan atlet perlu menghormati kewenangan dan peraturan, karena tanpa kedua hal ini suatu perhimpunan tidak akan berfungsi
5.    Rasa terhadap perspektif atau nilai relatif
Beberapa pertanyaan tentang gunanya berolahraga perlu dipertimbangkan diantaranya ; a) seberapa penting olahraga, b) apakah hubungan yang tepat antara olahraga dalam filosofi pendidikan kita?,c)Seberap penting suatu kemenangan dan d) apa yang menjadi integritas akademik kita?
Pendidik jasmani dalam proses pendidikan sebaiknya mengembangkan karakter, karakter menurut David Shield dan Brenda Bredemeir adalah empat kebajikan dimana seseorang mempunyai karakter bagus menampilkan ; compassion (rasa belas kasih), fairness (keadilan), sportsmanship (ketangkasan) dan integritas.
Dengan adanya rasa belas kasih, murid dapat diberi semangat untuk melihat lawan sebagai kawan dalam permainan, sama-sama bernilai, sama-sama patut menerima penghargaan. Keadilan melibatkan tidak keberpihakan, sama-sama tanggung jawab. Ketangkasan dalam olahraga melibatkan berusaha secara intens menuju sukses. Integritas memungkinkan seseorang untuk membuat kesalahan pada yang lain, sebagai contoh meskipun tindakannya negatif penerimannya oleh wasit, teman satu tim ataupun fans.

Hakikat Olahraga dan Penjas
Filsafat olahraga, seperti filsafat lainnya, dalam olahraga ada beberapa konsep yang perlu dikaji dan dipahami secara mendalam. Konsep ini bersifat abstrak yaitu ‘mental image’. Walau kita tahu bahwa konsep ini abstrak, tetapi didalam konsep ini ada makna tertentu, walau perbedaan makna pada setiap individu berbeda-beda tentang ini.
Konsep dasar tentang keolahragaan beragam, seperti bermain (play), Pendidikan jasmani (Physical education), olahraga (Sport), rekreasi (recreation), tari (dance).
Bermain (play) adalah fitrah manusia yang hakiki sebagai mahluk bermain (homo luden), bermain suatu kegiatan yang tidak berpretensi apa-apa, kecuali sebagai luapan ekspresi, pelampiasan ketegangan, atau peniruan peran. Dengan kata lain, aktivitas bermain dalam nuansa riang dan gembira.
Dalam bermain terdapat unsur ketegangan, yang tidak lepas dari etika seperti semangat fair play yang sekaligus menguji ketangguhan, keberanian dan kejujuran pemain, walau tanpa wasitpun permainan anak-anak terlihat belum tercemar.
Dalam bermain terdapat unsur ketegangan, yang tidak lepas dari etika seperti semangat fair play yang sekaligus menguji ketangguhan, keberanian dan kejujuran pemain, walau tanpa wasitpun permainan anak-anak terlihat  menyenangkan dan gembira ini merupakan bentuk permainan yang belum tercemar.
Dalam bermain pendidikan etika yang ada tidak mengenal pada suatu ajaran tertentu, karena anak bermain tidak melihat sisi religius teman dan bentuk permainan, karena tidak ada aturan dalam hal religus dalam bentuk permainan, pendidikan etika disini yang membetuk manusia yang baik dan kritis, sehingga proses pemberian pembelajarannya lebih bersifat mengembangkan daya pikir kritis  dengan mengamati realitas kehidupan.
Seperti melihat harimau, maka anak akan meniru gaya harimau yang menerkam mangsa, simangsa sudah tentu adalah teman sepermainnya. Temannya akan berjuang mempertahankan dengan bergelut.
Bermain dalam alam anak memberikan konsep anak bertanggung jawab terhadap permainan tersebut. Ketika terjadi “perselisihan” maka tanggung jawab anak terhadap permainan ini membantu dalam pengembangan moralnya.
Olahraga (sport) yang merupakan kegiatan otot yang energik dan dalam kegiatan itu atlet memperagakan kemampuan geraknya (performa) dan kemauannya semaksimal mungkin, akan tetapi perkembangan teknologi memungkinkan faktor mesin menjadi techno-sport, seperti balap mobil, balap motor, yang banyak tergantung dengan faktor mesin.
Olahraga bersifat netral dan umum, tidak digunakan dalam pengertian olahraga kompetitif, karena pengertiannya bukan hanya sebagai himpunan aktivitas fisik yang resmi terorganisasi (formal) dan tidak resmi (informal).
Pendidikan jasmani pada dasarnya bersifat universal, berakar pada pandangan klasik tentang kesatuan erat antara “body and mind”, Pendidikan jasmani adalah bagian integral dari pendidikan melalui aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, intelektual dan emosional.
Konsep pendidikan jasmani terfokus pada proses sosialisasi atau pembudayaan via aktifitas jasmani, permainan dan olahraga. Proses sosialisasi berarti pengalihan nilai-nilai budaya, perantaraan belajar merupakan pengalaman gerak yang bermakna dan memberi jaminan bagi partisipasi dan perkembangan seluruh aspek kepribadian peserta didik. Perubahan terjadi karena keterlibatan peserta didik sebagai aktor atau pelaku melalui pengalaman dan penghayatan secara langsung dalam pengalaman gerak sementara guru sebagai pendidik berperan sebagai “pengarah” agar kegiatan yang lebih bersifat pendeawsaan itu tidak meleset dari pencapaian tujuan.
Pengajaran Etika dalam pendidikan jasmani
Kita telah menyadari bahwa pendidikan jasmani dan olahraga adalah laboratorium bagi pengalaman manusia, oleh sebab itu guru pendidikan jasmani harus mencoba mengajarkan etika dan nilai dalam proses belajar mengajar, yang mengarah pada kesempatan untuk membentuk karakter anak.
Karakter anak didik yang dimaksud tentunya tidak lepas dari karakter bangsa Indonesia serta kepribadian utuh anak, selain harus dilakukan oleh setiap orangtua dalam keluarga, juga dapat diupayakan melainkan pendidikan nilai di sekolah. Saran yang bisa diangkat yaitu :
  1. Seluruh suasana dan iklim di sekolah sendirii sebagai lingkungan sosial terdekat yang setiap hari dihadapi, selain di keluarga dan masyarakat luas, perlu mencerminkan penghargaan nyata terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang mau diperkenalkan dan ditumbuhkembangkan penghayatannya dalam diri peserta didik. Misalnya, kalau sekolah ingin menanamkan nilai keadilan kepada para peserta didik, tetapi di lingkungan sekolah itu mereka terang-terangan menyaksikan berbagai bentuk ketidakadilan, maka di sekolah itu tidak tercipta iklim dan suasana yang mendukung keberhasilan pendidikan nilai. (Seperti praktek jual-beli soal, mark up nilai, pemaksaan pembelian buku dsb)
  2. Tindakan nyata dan penghayatan hidup dari para pendidik atau sikap keteladanan mereka dalam menghayati nilai-nilai yang mereka ajarkan akan dapat secara instingtif mengimbas dan efektif berpengaruh pada peserta didik. Sebagai contoh, kalau guru sendiri memberi kesaksikan hidup sebagai pribadi yang selalu berdisiplin, maka kalau ia mengajarkan sikap dan nilai disiplin pada peserta didiknya, ia akan lebih disegani.
  3. Semua pendidik di sekolah, terutama para guru pendidikan jasmani perlu jeli melihat peluang-peluang yang ada, baik secara kurikuler maupun non/ekstra kurikuler, untuk menyadarkan pentingnya sikap dan perilaku positif dalam hidup bersama dengan orang lain, baik dalam keluarga, sekolah, maupun dalam masyarakat. Misalnya sebelum pelajaran dimulai, guru menegaskan bila anak tidak mengikuti pelajaran karena membolos, maka nilai pelajaran akan dikurangi.
  4. Secara kurikuler pendidikan nilai yang membentuk sikap dan perilaku positif juga bisa diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri, misalnya dengan pendidikan budi pekerti. Akan tetapi penulis tidak menyarankan untuk di lakukan.
  5. Melalui pembinaan rohani siswa, melalui kegiatan pramuka, olahraga, organisasi, pelayanan sosial, karya wisata, lomba, kelompok studi, teater, dll. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut para pembina melihat peluang dan kemampuannya menjalin komunikasi antar pribadi yang cukup mendalam dengan peserta didik.

Kesimpulan
Penulis mencoba merekomendasikan beberapa hal tentang pendidikan nilai dalam pendidikan jasmani berdasarkan latar belakang dan teori, diantaranya :
  1. Pendidikan etika konsepnya bersifat abstrak, sehingga pemberiannya harus lebih banyak pada perilaku dan contoh-contoh yang konstruktif.
  2. Pendidikan jasmani sebagai alat pendidikan mempercepat anak dalam mengembangkan konsep tentang moral.
  3. Mengamati realitas moral secara kritis, akan lebih dekat pada bentuk permainan, dimana mengamati realitas moral merupakan pendidikan etika.
  4. Dalam permainan compassion, fairness, spormanship dan integritas sangat lekat didalamnya sehingga mampu memberikan konsep pendidikan etika di dalamnya.
  5. Dukungan lingkungan sekolah dan masyarakat harus dijaga untuk  menjaga iklim lingkungan sosial yang baik, agar mendukung pendidikan etika dan nilai.
  6. Guru pendidikan jasmani dapat mengajarkan nilai dan etika diluar jam pelajaran, terutama saat ektra kurikuler, kegiatan pramuka, organisasi klub olahraga sekolah dengan melihat peluang yang tepat dalam pendekatan individu.
  7. Membuat mata pelajaran tentang budi pekerti, tetapi hal ini perlu pembicaraan sesama seksama.









DAFTAR PUSTAKA

                                                                                                           
Franz Magnis Suseno, (1987) Etika Dasar, Masalah-masalah pokok filsafat
moral. Yogyakarta: Perc. Kanisius, 1987.

_________________, (2000), Kuasa & Moral. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

Ikhwanuddin Syarif (ed). (2001) Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia baru,
70 tahun Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc. Ed. Jakarta: Grasindo, 2001.

Richard Tinning, et., al, (2001) Becoming a physical education teacher,
Australia: Printice hall.

Rusli Lutan (ed)., (2001) Olahraga dan Etika Fair Play. Direktorat
Pemberdayaan IPTEK Olahraga, Dirjen OR, Depdiknas, Jakarta: CV.
Berdua Satutujuan.

Sutan Zanti dan Syahniar Syahrun, (1993) Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta:
Dirjeb Pend. Tinggi.

William H. Freeman, 6th ed. (2001) Physical Education and sport in a changing
society. Boston: Allyn & Bacon.

Wendy Kohli (ed).,(1995) Critical Conversations in Pholosophy of Education.
New York: Routledge.


[1]Johansyah Lubis, Adalah Dosen Sosiokinetika, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Jakarta. Dan Ketua Komisi Pembibitan dan pemanduan Bakat KONI Pusat 2007 - 2011